PENDAHULUAN
Pospartum blues
adalah gejala dimana seseorang ibu yang
mengalami setres pasca melahirkan pada minggu pertama setelah melahirkan . Hal ini sangat berpengaruh pemberian
ASI pada bayi . Karena pemberian ASI sejak jam pertama melahirkan sampai 6
bulan sangat penting bagi perkembangan bayi tersebut.Kemungkinan penyebab Pospartum Blues ada beberapa faktor yaitu Faktor
hormonal, disebabkan karena tidak seimbangnya hormon pada tubuh wanita
postpartum, karena 24 jam pertama saat postpartum hormon estrogen dan progesteron
menurun, serta hormon endofrin ( hormone kebahagiaan ) menurun. Sebelum
melahirkan ibu merasa bahagia, tetapi saat melahirkan endofrin menurun, menyebabkan
menurunnya mood ibu, sehingga menyebabkan depresi dan bersedih. Pengalaman
sebelum proses persalinan dan latar
belakang.Di sini dapat disebabkan oleh troma atau ketakutan ibu saat
melahirkan, mungkin karena faktor psikososial wanita yang bersangkutan,atau faktor
dari luar seperti cerita pengalaman dari seseorang yang telah mengalami masa
sulit melahirkan, sehingga akan
mempengaruhi mental ibu tersebut. Dukungan
suami atau keluarga seperti dukungan suami atau keluarga.Dukungan suami atau
keluaraga yang kurang akan mengakibatkan lima kali lipat menimbulkan mood buruk
pada ibu yang ingin melahirkan. Karakteristik : umur, pendidikan dan
pekerjaan. Umur : ibu yang melahirkan yang belum mempunyai kematangan dan
kedewasaan dalam masa kehamilan akan berpengaruh pada kesiapannya dalam
menghadapi masa kelahiran. Pendidikan dan pekerjaan : contohnya pada wanita
karir yang lebih sering menghadapi pekerjaan di bandingkan mengasuh anak, ini
sangat rentan terkena postpartum blues. Keinginan
yang tidak sejalan contoh : seorang suami atau mertua yang menginginkan
anak/cucu laki-laki, tetapi pada kenyataannya melahirkan bayi perempuan,
sehingga membuat sang ibu tertekan karena tidak bisa mewujudkan keinginan
suami/mertuanya tersebut, ini akan menimbulkan postpartum blues karena
kenyataan yang tidak sesuai keinginan. Pemberian ASI langsung pada bayi dapat
mengurangi gejala postpartum blues dari pada memberikan susu formula pada bayi,
dengan kata lain wanita yang tidak bersedia menyusui anaknya memiliki resiko
gejala postpartum blues lebih tinggi dibandingkan dengan wanita yang berniat
mau menyusui anaknya.
METODE
Metode penelitian dilakukan secara
observasional dengan menganalisis data, penelitian ini terdiri dari tiga
tahapan yaitu analisis univariat untuk
menggambarkan karakteristik dari masing-masing variabel yang diteliti dengan
menggunakan distribusi frekuensi
dan persentase dari masing masing kelompok. Analisis bivariat untuk mengetahui ada tidaknya hubungan
antara variabel bebas dengan variabel terikat dan variabel luar dengan variable
terikat.Analisis
multivariate untuk
mengetahui hubungan antara variabel bebas dan variabel luar secara bersama-sama
dengan variabel terikat. Variabel luar yang diikutkan dalam
analisis ini adalah variabel yang mempunyai hubungan dengan variabel terikat.
HASIL
Tabel
1. Hasil analisis Univariat
|
Karakteristik
subjek
penelitian
|
n
(%)
|
|
Paritas
1
2–4
> 4
Jenis Persalinan
SC/V/F
Normal
Dukungan Sosial
Tidak ada
Ada
Pemberian ASI
Tidak
Sebagian
ASI eksklusif
Postpartum Blues
Ya
Tidak
|
30 (30,93)
54 (55,67)
13 (13,40)
11 (11,34)
86 (88,66)
25 (25,77)
72 (74,23)
31 (31,96)
47 (48,45)
19 (19,59)
29 (29,90)
68 (70,10)
|
Berdasarkan Tabel 1 hasil analisis univariat
menunjukkan bahwa sebagian besar responden dengan
paritas 2–4 (55,67%). Hampir seluruh responden dengan jenis persalinan normal
(88,66%). Hasil analisis menunjukan bahwa pola pemberian
makanan dini pada bayi berhubungan secara statistik dengan kejadian gejala postpartum blues.
Table 2. Hasil analisis Bivariat
|
Variabel
|
Postpartum Blues
|
|
|
Ya Tidak
|
||
|
n (%) n (%)
|
||
|
PemberianASI
Tidak
Sebagian
ASI eksklusif
|
24(77,42)
36(76,60)
8(42,11)
|
7 (22,58)
11(23,40)
11(57,89)
|
Berdasarkan Tabel 2 diketahui bahwa pemberian ASI pada bayi umur < 10 hari
mempunyai hubungan secara signifikan baik praktis maupun statistik dengan
gejala postpartum blues. Bertujuan untuk
melihat hubungan pola pemberian makanan dini pada bayi dengan kejadian gejala postpartum blues serta
besarnya kontribusi paritas yang diikutsertakan dalam analisis. Hasil analisis
Bivariat menunjukan bahwa pola pemberian makanan dini pada bayi berhubungan
secara statistik dengan kejadian gejala postpartum
blues.
Tabel 3. Hasil analisis Multivariat
|
Variabel
|
Postpartum Blues
|
|
|
Ya Tidak
|
||
|
n (%) n (%)
|
||
|
Paritas
1
2–4 (ref)
> 4
Jenis Persalinan
SC/V/F
Normal
Dukungan Sosial
Tidak ada
Ada
|
16 (53,33)
8 (14,81)
5 (38,46)
3 (27,27)
26 (30,23)
13 (52,00)
16 (22,22)
|
14 (46,67)
46 (85,19)
8 (61,54)
8 (72,73)
60 (69,77)
12 (48,00)
56 (77,78)
|
Berdasarkan
Tabel 3, analisis Multivariat untuk mengetahui hubungan pola pemberian makanan
dini pada bayi dengan kejadian gejala postpartum
blues dengan mempertimbangkan kontribusi variabel dukungan
sosial.Hasil analisis ini diketahui bahwa paritas berhubungan secara signifkan
dengan gejala postpartum blues. Jenis
persalinan tidak berhubungan dengan gejala postpartum blues baik secara praktis maupun statistik. Dukungan
social berhubungan
dengan gejala postpartum blues. Dan pola
pemberian makanan
dini
pada bayi berhubungan secara statistik dengan kejadian gejala postpartum blues.
PEMBAHASAN
1.Distribusi frekuensi pemberian ASI
pada bayi umur < 10 hari.
Berdasarkan
hasil penelitian pemberian ASI pada bayi umur > 10 hari merupakan faktor
terpenting untuk keberhasilan pemberian ASI eksklusif, karena idealnya
pemberian ASI harus disusui dalam satu jam pertama setelah persalinan, karena
pada saat itu bayi mempunyai refleks yang kuat untuk menghisap.Pada saat ini
banyak pemberian makanan lain yang mempengaruhi pemberian ASI, salah satunya
adalah susu formula,Hal ini dapat menurunkan produksi ASI,dan frekuensi
menyusui pada ibu. Sehingga pemberian susu formula sejak dini dapat menurunkan
produksi ASI dan menurunnya distribusi frekuensi pemberian ASI.
2.
Gejala postpartum blues
Seorang
ibu yang mengalami postpartum pasti akan mengalami postpartum blues, gejala
yang ditimbulkan adalah berupa halusinasi, depresi, gelisah, dan rasa tidak
ingin menyusui bayi, gejala tersebut akan muncul saat setelah persalinan,
gejala tersebut muncul karena beberapa faktor hormon dan lingkungan.
3.
Hubungan pemberian ASI pada bayi umur < 10 hari dengan gejala postpartum
blues.
Hasil
analisis menunjukkan bahwa pemberian ASI pada bayi umur < 10 hari
berhubungan dengan gejala postpartum blues. Hasil penelitian menyatakan
bahwa metode pemberian makanan bayi mempunyai pengaruh terhadap kejadian gejala
postpartum blues, di mana menyusui dapat mengurangi risiko terjadinya gejala
postpartum blues dan sebaliknya.
Hasil
penelitian ini menunjukan bahwa betapa pentingnya pemberian makanan pada bayi
secara full breastfeeding. Hal ini menyatakan bahwa menyusui memiliki
dampak yang signifikan pada ibu dan bayi, karena ibu menyusui mempengaruhi Hipotalamus.
Di mana menyusui memiliki hubungan
yang bermakna dengan menciptakan suasana bahagia pada hati ibu dan tingkat
stres akan menurun . Ibu yang menyusui akan lebih tenang ,tidak cemas dan
kurang stress.
4.
Hubungan jenis persalinan dengan gejala postpartum blues.
Hasil
analisis menunjukan bahwa jenis persalinan tidak berhubungan dengan gejala postpartum
blues.
5. Dukungan sosial berhubungan dengan gejala Postpartum blues.
Ibu yang mengalami postpartum blues akan
mengalami gejala – gejala seperti sering merasa cemas dan khawatir tanpa sebab,
mudah tersinggung dan marah, murung, mengalami gangguan tidur dan nafsu makan
menurun, karena itu perlunya dukungan suami terhadap istri, dukungan tersebut
dapat menjadi motivasi menjelang persalinan, Hal yang dapat dilakukan suami
yaitu mendampingi sang istri saat melahirkan, dengan dampingan sang suami, sang
istri merasa terdorong dan semangat menjalani proses persalinan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar