Senin, 21 April 2014

POSTPARTUM BLUES

PENDAHULUAN

Pospartum blues adalah gejala dimana seseorang  ibu yang mengalami setres pasca melahirkan pada minggu pertama setelah  melahirkan . Hal ini sangat berpengaruh pemberian ASI pada bayi . Karena pemberian ASI sejak jam pertama melahirkan sampai 6 bulan sangat penting bagi perkembangan bayi tersebut.Kemungkinan penyebab Pospartum  Blues ada beberapa faktor yaitu Faktor hormonal, disebabkan karena tidak seimbangnya hormon pada tubuh wanita postpartum, karena 24 jam pertama saat postpartum hormon estrogen dan progesteron menurun, serta hormon endofrin ( hormone kebahagiaan ) menurun. Sebelum melahirkan ibu merasa bahagia, tetapi saat melahirkan endofrin menurun, menyebabkan menurunnya mood ibu, sehingga menyebabkan depresi dan bersedih. Pengalaman sebelum proses persalinan  dan latar belakang.Di sini dapat disebabkan oleh troma atau ketakutan ibu saat melahirkan, mungkin karena faktor psikososial wanita yang bersangkutan,atau faktor dari luar seperti cerita pengalaman dari seseorang yang telah mengalami masa sulit melahirkan, sehingga akan mempengaruhi mental ibu tersebut. Dukungan suami atau keluarga seperti dukungan suami atau keluarga.Dukungan suami atau keluaraga yang kurang akan mengakibatkan lima kali lipat menimbulkan mood buruk pada ibu yang ingin melahirkan. Karakteristik : umur, pendidikan dan pekerjaan. Umur : ibu yang melahirkan yang belum mempunyai kematangan dan kedewasaan dalam masa kehamilan akan berpengaruh pada kesiapannya dalam menghadapi masa kelahiran. Pendidikan dan pekerjaan : contohnya pada wanita karir yang lebih sering menghadapi pekerjaan di bandingkan mengasuh anak, ini sangat rentan terkena postpartum blues. Keinginan yang tidak sejalan contoh : seorang suami atau mertua yang menginginkan anak/cucu laki-laki, tetapi pada kenyataannya melahirkan bayi perempuan, sehingga membuat sang ibu tertekan karena tidak bisa mewujudkan keinginan suami/mertuanya tersebut, ini akan menimbulkan postpartum blues karena kenyataan yang tidak sesuai keinginan. Pemberian ASI langsung pada bayi dapat mengurangi gejala postpartum blues dari pada memberikan susu formula pada bayi, dengan kata lain wanita yang tidak bersedia menyusui anaknya memiliki resiko gejala postpartum blues lebih tinggi dibandingkan dengan wanita yang berniat mau menyusui anaknya.

METODE
Metode penelitian dilakukan secara observasional dengan menganalisis data, penelitian ini terdiri dari tiga tahapan yaitu analisis univariat untuk menggambarkan karakteristik dari masing-masing variabel yang diteliti dengan menggunakan distribusi frekuensi dan persentase dari masing masing kelompok. Analisis bivariat untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat dan variabel luar dengan variable terikat.Analisis multivariate untuk mengetahui hubungan antara variabel bebas dan variabel luar secara bersama-sama dengan variabel terikat. Variabel luar yang diikutkan dalam analisis ini adalah variabel yang mempunyai hubungan dengan variabel terikat.

 HASIL
Tabel 1. Hasil analisis Univariat
Karakteristik
subjek penelitian
n (%)
Paritas
1
2–4
> 4
Jenis Persalinan
SC/V/F
Normal
Dukungan Sosial
Tidak ada
Ada
Pemberian ASI
Tidak
Sebagian
ASI eksklusif
Postpartum Blues
Ya
Tidak

30 (30,93)
54 (55,67)
13 (13,40)

11 (11,34)
86 (88,66)

25 (25,77)
72 (74,23)

31 (31,96)
47 (48,45)
19 (19,59)

29 (29,90)
68 (70,10)

Berdasarkan Tabel 1 hasil analisis univariat
menunjukkan bahwa sebagian besar responden dengan paritas 2–4 (55,67%). Hampir seluruh responden dengan jenis persalinan normal (88,66%). Hasil analisis menunjukan bahwa pola pemberian
makanan dini pada bayi berhubungan secara statistik dengan kejadian gejala postpartum blues.

Table 2. Hasil analisis Bivariat
Variabel
Postpartum Blues
Ya               Tidak
n (%)             n (%)

PemberianASI
Tidak
Sebagian
ASI eksklusif


24(77,42)
36(76,60)
8(42,11)


7 (22,58)
11(23,40)
11(57,89)
Berdasarkan Tabel 2 diketahui bahwa pemberian ASI pada bayi umur < 10 hari mempunyai hubungan secara signifikan baik praktis maupun statistik dengan gejala postpartum blues. Bertujuan untuk melihat hubungan pola pemberian makanan dini pada bayi dengan kejadian gejala postpartum blues serta besarnya kontribusi paritas yang diikutsertakan dalam analisis. Hasil analisis Bivariat menunjukan bahwa pola pemberian makanan dini pada bayi berhubungan secara statistik dengan kejadian gejala postpartum blues.

Tabel 3. Hasil analisis Multivariat

Variabel
Postpartum Blues
Ya               Tidak
n (%)             n (%)

Paritas
1
2–4 (ref)     
 > 4  
Jenis Persalinan
SC/V/F
Normal
Dukungan Sosial

Tidak ada
Ada                  


16 (53,33)
8 (14,81)
5 (38,46)

3 (27,27)
26 (30,23)

13 (52,00)
16 (22,22)


14 (46,67)
46 (85,19)
8 (61,54)

8 (72,73)
60 (69,77)


12 (48,00)
56 (77,78)

Berdasarkan Tabel 3, analisis Multivariat untuk mengetahui hubungan pola pemberian makanan dini pada bayi dengan kejadian gejala postpartum blues dengan mempertimbangkan kontribusi variabel dukungan sosial.Hasil analisis ini diketahui bahwa paritas berhubungan secara signifkan dengan gejala postpartum blues. Jenis persalinan tidak berhubungan dengan gejala postpartum blues baik secara praktis maupun statistik. Dukungan social berhubungan dengan gejala postpartum blues. Dan pola pemberian makanan
dini pada bayi berhubungan secara statistik dengan kejadian gejala postpartum blues.

PEMBAHASAN

1.Distribusi frekuensi pemberian ASI pada bayi umur < 10 hari.
Berdasarkan hasil penelitian pemberian ASI pada bayi umur > 10 hari merupakan faktor terpenting untuk keberhasilan pemberian ASI eksklusif, karena idealnya pemberian ASI harus disusui dalam satu jam pertama setelah persalinan, karena pada saat itu bayi mempunyai refleks yang kuat untuk menghisap.Pada saat ini banyak pemberian makanan lain yang mempengaruhi pemberian ASI, salah satunya adalah susu formula,Hal ini dapat menurunkan produksi ASI,dan frekuensi menyusui pada ibu. Sehingga pemberian susu formula sejak dini dapat menurunkan produksi ASI dan menurunnya distribusi frekuensi pemberian ASI.
2. Gejala postpartum blues
Seorang ibu yang mengalami postpartum pasti akan mengalami postpartum blues, gejala yang ditimbulkan adalah berupa halusinasi, depresi, gelisah, dan rasa tidak ingin menyusui bayi, gejala tersebut akan muncul saat setelah persalinan, gejala tersebut muncul karena beberapa faktor hormon dan lingkungan.
3. Hubungan pemberian ASI pada bayi umur < 10 hari dengan gejala postpartum blues.
Hasil analisis menunjukkan bahwa pemberian ASI pada bayi umur < 10 hari berhubungan dengan gejala postpartum blues. Hasil penelitian menyatakan bahwa metode pemberian makanan bayi mempunyai pengaruh terhadap kejadian gejala postpartum blues, di mana menyusui dapat mengurangi risiko terjadinya gejala postpartum blues dan sebaliknya.
Hasil penelitian ini menunjukan bahwa betapa pentingnya pemberian makanan pada bayi secara full breastfeeding. Hal ini menyatakan bahwa menyusui memiliki dampak yang signifikan pada ibu dan bayi, karena ibu menyusui mempengaruhi Hipotalamus. Di mana menyusui memiliki hubungan yang bermakna dengan menciptakan suasana bahagia pada hati ibu dan tingkat stres akan menurun . Ibu yang menyusui akan lebih tenang ,tidak cemas dan kurang stress.
4. Hubungan jenis persalinan dengan gejala postpartum blues.
Hasil analisis menunjukan bahwa jenis persalinan tidak berhubungan dengan gejala postpartum blues.
5. Dukungan sosial berhubungan dengan gejala Postpartum blues.
Ibu yang mengalami postpartum blues akan mengalami gejala – gejala seperti sering merasa cemas dan khawatir tanpa sebab, mudah tersinggung dan marah, murung, mengalami gangguan tidur dan nafsu makan menurun, karena itu perlunya dukungan suami terhadap istri, dukungan tersebut dapat menjadi motivasi menjelang persalinan, Hal yang dapat dilakukan suami yaitu mendampingi sang istri saat melahirkan, dengan dampingan sang suami, sang istri merasa terdorong dan semangat menjalani proses persalinan.


Tidak ada komentar: